Senin, 07 Maret 2011

Sultan Iskandar Muda


Asal usul

Dari pihak leluhur ibu, Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam dikatakan dahulunya merupakan dua tempat pemukiman bertetangga (yang terpisah oleh sungai) dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam. Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang itu, yang berhak sepenuhnya menuntut takhta.[2]
Ibunya, bernama Putri Raja Indra Bangsa, yang juga dinamai Paduka Syah Alam, adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat SyahSultan Aceh ke-10; dimana sultan ini adalah putra dari Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah anak atau cucu (menurut Djajadiningrat) Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal.[2]
Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah, putra dari Sultan Abdul-Jalil, dimana Abdul-Jalil adalah putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar,Sultan Aceh ke-3.[2]

[sunting]Pernikahan

Sri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.

[sunting]Masa kekuasaan

Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai pada tahun 1607 sampai 1636, merupakan masa paling gemilang bagi Kesultanan Aceh, walaupun di sisi lain kontrol ketat yang dilakukan oleh Iskandar Muda, menyebabkan banyak pemberontakan di kemudian hari setelah mangkatnya Sultan.

Mengenal Rencong Aceh

Pendahuluan
Kesenian memiliki makna yang luas, tidak terbatas hanya pada satu persoalan saja. Sebelum kita membahas secara jauh maka ada baiknya terlebih dahulu kita memahami makna dari kesenian. Kesenian berasal dari kata seni, menurut kamus seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya dan sebagainya ; seni juga sebuah karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti : tari, lukisan, ukiran, yang termasuk juga di dalamnya seni kriya yaitu kerajinan tangan . Aktivitas masyarakat seringkali tidak lepas dari unsur seni sehingga seni menjadi bahagian yang penting dan bahagian dari wujud kebudayaan.

Setiap masyarakat memiliki ragam seni tersendiri, berbeda antara satu dengan yang lainnya karena dipengaruhi oleh pola pikir, lingkungan, maupun letak wilayahnya. Seni berkaitan dengan ekpresi, bagi Dilthey (1979,1986) ekspresi adalah sumber pengetahuan tentang manusia, yang mempunyai enam ciri : suatu ekpresi selalu mempunyai makna tertentu ; ada hubungan yang unik antara ekpresi dan apa yang diekpresikan 2. Hubungan itu tidak berbentuk kausal dan tidak bersifat temporal ; ekpresi adalah ciri fisik yang menunjuk pada kandungan mental ; ekpresi muncul dalam konteks atau merupakan bahagian dari konfigurasi ; mempunyai aturan tertentu, baik tertulis (seperti bahasa), maupun tidak ; ekpresi mempunyai dua sifat yang bertentangan, disatu pihak bersifat purposif (dapat muncul berupa tulisan, suara dan gerak yang disengaja)3, dalam suasana tertentu dapat juga berupa tindakan yang tidak sengaja akan tetapi memiliki makna.

Ekpresi ada dua dasar terjadinya yaitu pikiran dan suasana kehidupan. Ekpresi yang timbul dari intensi pikiran, misalnya konsep dan struktur pikiran. Keduanya adalah unsur pokok dalam ilmu pengetahuan dan berurusan dengan logika. Oleh karena itu, ekpresi yang dimaksudkan dalam kategori ini ada dalam bidang keilmuan dan menuntut adanya validitas yang lepas dari situasi yang dimunculkannya. Dasar kedua bagi lahirnya suatu ekpresi adalah suasana dan pengalaman hidup (life – expressions)4. Dalam kategori ini ekpresi bukan intensi pikiran , tetapi dikondisikan oleh pikiran. Berbeda dengan ekpresi yang lahir dari pikiran, maka life –expressions lebih banyak menampilkan segi-segi kehidupan, dengan sifat emosi dan psikologik yang cukup menonjol. Perbedaan lain dari yang disebutkan sebelumnya adalah tidak bisa dilepaskan ekpresi ini dari konteksnya. Pemahaman jadi sangat sulit karena interpretasi dapat berubah tergantung dari suasana konteks itu. Meskipun demikian, melalui ekpresi jenis ini orang dapat memahami suatu kandungan mental, sekalipun persoalan tersebut bukan menjadi tolak ukurnya. Sifat ekpresi yang seperti ini sama dengan sifat symbol yang menyatakan tetapi sekaligus juga menyembunyikan makna symbol itu sendiri.

Beranjak dari ciri-ciri tersebut di atas, apakah dengan mengkaji karya seni maka dengan sendirinya kita dapat mengkaji aspek mental senimannya?. Dalam hal ini Dilthey membedakan dua bentuk karya seni yaitu ; karya seni yang disebutnya otentik dan karya yang tidak otentik. Suatu karya yang tidak otentik tidak berbicara tentang kandungan mental senimannya, karena karya semacam itu hanya merupakan ilusi. Karya ini bisa dianggap lepas dari kandungan mental sang seniman, karena interes sang seniman sangat dipengaruhi oleh hal-hal praktis yang lebih kuat dari pengalaman hidup yang tersimpan dalam kandungan mentalnya. Dalam kondisi seperti ini tampaknya kita hanya dapat memasuki sisi interes seniman itu dan tidak sampai meluas pada kandungan mentalnya. Sebagai contoh adalah interes seniman yang berkarya karena kebutuhan material.

Berbagai bentuk karya seni merupakan ekpresi identitas, pernyataan seperti ini karena dipengaruhi oleh dua persoalan. Pertama, para peneliti berhasil memasuki kandungan mental seniman yang melahirkan karya-karya otentik, seperti misalnya penelitian Kenneth George tentang kaligrafi Pirous. Persoalan kedua, proses dari pemaknaan suatu karya seni dianggap cukup penting sehingga pada gilirannya karya itu dapat menjadi ajang kontestasi untuk bisa menjadi representasi identitas. Salah satunya adalah contoh dari proses pemaknaan ekpresi seni itu, sangat jelas pada kajian Jennifer Santos tentang kerajinan tangan masyarakat desa Tegallalang, Bali.

Jumat, 04 Maret 2011

Baiturrahman Tempoe Doloe

Mesjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah Mesjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. dimulai dari masa kesultanan, penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. Mulai Daerah Operasi Militer, perjanjian damai hingga bencana tsunami. Rumah ibadah ini menyaksikan semuanya

Sejarah mencatat, Baiturrahman kembali melewati satu babak dalam sejarah masyarakat Aceh. Mesjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan Mesjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok Mesjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya.

Mesjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun Mesjid ini pada abad ke 13. Dalam versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu Mesjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik mesjid mengikuti alur sejarah bumi Serambi Mekah. Bangunan yang kelihatan sekarang bukanlah lagi bangunan semasa zaman kesultanan. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturahman mirip Mesjid-Mesjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat yang memiliki 1 kubah. Pada 1873, mesjid ini dibakar oleh Belanda dikarenakan mesjid dijadikan pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun itu pula terjadi pertempuran besar antara rakyat Aceh dengan tentara Belanda. Tembak menembak yang membuat gugurnya salah seorang perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di Mesjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman Mesjid. Letak prasasti di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang Mesjid.